Mengenal Cianjur dari Berbagai Sudut

Sejarah Kopi Cianjur di Jaman Kolonial: Sistem Cultuurstelsel (Bagian 2)

0

Penulis : E.D Jenura

Pada tahun 1720-an, VOC menjadi penyalur 3/4 kopi dunia dan dari jumlah tersebut, setengahnya berasal dari Priangan Barat atau Kabupaten . Tercatat pada tahun 1723, terdapat lebih dari sejuta pohon kopi di . Pada tahun 1752, sebanyak 1.264 ton kopi berlayar menuju Amsterdam.

Pada saat itu di Priangan atau Tanah Sunda, masyarakat hidup dengan berhuma. Mereka membuka ladang untuk menanam padi, lalu berpindah tempat setelah tanah mereka tak subur lagi, untuk membuka ladang baru. Siklus tersebut telah dilakukan selama ribuan tahun.

Terkadang para peladang tersebut kembali ke ladang lama mereka yang telah subur kembali setelah ditinggalkan. Singkatnya, masyarakat Sunda umumnya adalah masyarakat nomaden, berpindah-pindah tempat.

VOC menganggap pola hidup orang Sunda tidak sesuai dengan rencana monopoli kopi mereka. Selain itu, pada awalnya banyak petani kopi Priangan yang menjual panen mereka pada pedagang Arab atau Cina. Didorong kerakusan, dengan meminjam tangan para menak yang diiming-imingi pembagian keuntungan, VOC memaksakan sistem Cultuurstelsel atau Tanam Paksa.

Peraturan VOC ini dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mewajibkan setiap desa menyisihkan 20% tanahnya untuk ditanami komoditi ekspor, khususnya kopi. Hasil panen harus dijual kepada Belanda dengan harga yang sudah ditentukan.

Para petani kopi pun dilarang menjual hasil panen pada pedagang lain. Tak hanya itu, penduduk desa yang tidak memiliki tanah harus bekerja 75 hari dalam setahun di kebun-kebun milik pemerintah, yang menjadi semacam pajak keringat.

Dengan sistem keji ini, VOC kemudian memonopoli perdagangan kopi dunia. Kopi Jawa saat itu sangat tekenal di Eropa, sehingga orang-orang Eropa menyebutnya dengan “secangkir Jawa”. Sampai pertengahan abad ke-19, Kopi Jawa menjadi kopi terbaik di dunia dengan jumlah produksi luar biasa berkat diberlakukannya Tanam Paksa.

Tahun 1830–1834, impor kopi Jawa mencapai 26.600 ton ke Eropa, dan 30 tahun kemudian meningkat menjadi 79.600 ton dan puncaknya tahun 1880 -1884 mencapai 94.400 ton. Belanda, tak diragukan lagi, meraup keuntungan luar biasa besar.*

Leave A Reply

Your email address will not be published.