Mengenal Cianjur dari Berbagai Sudut

Mengenal Sejarah Terowongan Lampegan Cianjur Bagian Kedua

0

Penulis : E.D Jenura

Sejak dibukanya jalur kereta api Batavia-Buitenzorg (Jakarta-Bogor) yang dioperasikan oleh Nederlands Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) tahun 1873, pemerintah Belanda mengeruk banyak keuntungan karena mudah dan cepatnya transportasi hasil bumi ke pelabuhan untuk diangkut ke negara mereka.

Oleh karena itu, jalur kereta api ke wilayah pedalaman Preanger atau Priangan kemudian dikembangkan oleh Staat Spoorwagen (SS) atau Perusahaan Kereta Api Negara dengan jalur awal menuju Cianjur sebelum akhirnya masuk ke Bandung dan wilayah Priangan lainnya. Di sepanjang jalur Buitenzorg-Preanger kemudian didirikan stasiun-stasiun dan halte-halte, termasuk Halte Lampegan.

Berdasarkan laporan dalam Nederlandsche Staatscourant tertanggal 01 September 1880 yang berjudul Aanleg van Lijn Buitenzorg-Preanger Regentschappen (Konstruksi Jalur Bogor-Priangan), kita bisa mengetahui bahwa pengembangan jalur kereta api yang ambisius tersebut terbagi atas beberapa seksi konstruksi yang dikerjakan dalam waktu bersamaan, yakni:

Seksi Pertama, Jalur Buitenzorg (Bogor)-Parung Kuda
Seksi Kedua, Jalur Parung Kuda-Cikaso
Seksi Ketiga, Jalur Cikaso-Cisokan
Seksi Keempat, Jalur Cisokan-Cipadalarang (Padalarang)

Baca Juga: Sejarah Terowongan Lampegan Bagian Kesatu

Kita bisa membayangkan berapa besarnya pembangunan proyek konstruksi tersebut dengan mempertimbangkan topografi wilayah Priangan yang memiliki banyak sungai, bukit serta gunung-gunung yang harus dilalui. Setelah dikerjakan oleh 3 seksi konstruksi, Jalur Buitenzorg-Lampegan sepanjang 74 kilometer akhirnya selesai dalam kurun waktu 3 tahun (1879-1882).

Fakta mengenai berlangsungnya konstruksi proyek tersebut salah satunya bisa dibaca dalam kutipan laporan di Nederlandsche Staatscourant tersebut di atas, yang isinya kurang lebih seperti ini:

“Sepanjang bulan ini, 49.131 meter kubik tanah telah digali, menambah total jumlah galian tanah bulan-abulan sebelumnya yang telah berjumlah 359.219 meter kubik. Sejauh 4.291 meter tanggul tanah telah selesai. 2.797 meter masih dalam pengerjaan, dan sepanjang 27.712 meter berikutnya belum dikerjakan. Landasan terowongan di Tegalnangka dibangun di dua sisi. Di sisi utara, landasan sepanjang 138,50 meter di ketinggian 115 meter, sementara terowongan yang selesai sudah sepanjang 30,50 meter di ketinggian 47 meter. Di ujung selatan, landasan dibuat sepanjang 140 dengan ketinggian 85,75 meter. Gabungan kompresi udara dan tangki di Tegalnangka telah selesai. Di bagian lain, dua pondasi struktur hidrolik telah siap, sementara empat lainnya belum, dan pengumpulan bahan masih dilakukan. Semua pengukuran untuk penyusunan jalur Songgom-Cianjur sudah dilakukan. Untuk wilayah 4 Cianjur -Cisokan, penggambaran dan pengukuran tengah dikerjakan, termasuk pengukuran ketinggian air dengan waterpass. Wilayah antara Cianjur  dan Pasirhayam hampir seluruhnya telah dibersihkan dan dimiliki. Tempat pembakaran kapur didirikan di Gunungwangun, sementara pengumpulan semen dan batu didirikan di Cianjur . Pembakaran semen juga didirikan di Cibokor serta tempat-tempat lain di sepanjang jalur. Di wilayah terowongan dan sepanjangnya, jumlah pekerja sudah mencukupi, sementara di wilayah dekat Cianjur  jumlahnya belum mencukupi.”

Setelah pembangunan jalur kereta api selesai pada tahun 1882, sebuah halte didirikan sekitar 200 meter di sebelah timur terowongan Lampegan. Menurut The Encyclopaedic of Dutch Indie, Terowongan Lampegan memiliki panjang 658 meter.

Dalam beberapa tahun selanjutnya, jalur kereta api Hindia Belanda mulai beroperasi di wilayah-wilayah lain di pedalaman Priangan seperti Purwakarta, Bandung, Banjar, dan lain sebagainya. Berdasarkan hasil penelusuran dalam buku laporan Staatsspoorwegen op Java: Bepalingen op Het Vervoer en Tarieven, per tahun 1911 telah terdapat banyak stasiun dan halte yang didirikan di wilayah Priangan berkat proyek Jalur KA Buitenzorg-Preanger ini.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.