Mengenal Cianjur dari Berbagai Sudut

Dalem Pancaniti, Bupati Cianjur Penggubah Seni Mamaos Cianjuran

0

Penulis : E.D Jenura

Berbicara tentang seni mamaos Cianjuran tentu takkan bisa lepas dari menyebut nama Raden Tumenggung Adipati Aria Kusumaningrat atau lebih dikenal dengan nama Dalem Pancaniti, tokoh yang menjabat sebagai Bupati  ke-VIII pada kurun waktu 1834-1864.

Sewaktu kecil, Dalem Pancaniti dikenal dengan sebutan Aom Hasan. Beliau adalah putra Adipati Prawira Direja I, Bupati  yang memerintah hingga tahun 1833. Seperti halnya putra menak lain, Aom Hasan diberi pendidikan kebangsawanan sekaligus ilmu agama.

Aom Hasan dipesantrenkan pada seorang ulama berilmu tinggi, yakni Ajengan Cimuncang yang memiliki pesantren di wilayah Lampegan, .

Kesenangan Aom Hasan sewaktu kecil adalah berburu burung sambil menunggang kuda sehingga banyak sawah yang rusak oleh derap kaki kudanya. Sebagai ganti rugi bagi penduduk, Adipati Prawira Direja I kemudian membeli sawah-sawah yang rusak tersebut.

Meskipun sedikit nakal, Aom Hasan disayangi karena dikenal sebagai santri yang cemerlang dan cepat menguasai ilmu. Selain belajar agama dan pemerintahan, sejak kecil Aom Hasan juga mempelajari seni pantun dan degung pada Raden Wasitareja.

Tanggal 2 Maret 1830, Aom Hasan diangkat menjadi Patih dengan gelar Rangga dan namanya pun berubah menjadi Raden Rangga Wiradireja. Pada tahun 1833, Adipati Prawira Direja I turun dari jabatan Bupati dan posisinya untuk sementara diisi oleh kakak Raden Rangga Wiradireja yang berlainan ibu, yakni Raden Tumenggung Wiranagara.

Tumenggung Wiranagara akhirnya lengser dari jabatannya sebagai Warnent Regent (Bupati Sementara) dan digantikan oleh Aom Hasan alias Raden Rangga Wiradireja.

Pada 28 November 1834, dengan besluit atau Surat Keputusan Belanda Nomor 9, Tumenggung Wiradireja diangkat sebagai Warnent Regent dengan nama baru Raden Tumenggung Suria Natadiningrat.

Dua tahun kemudian, berdasarkan SK Belanda Nomor 15 tertanggal 22 Januari 1836, beliau diangkat sebagai Regent atau Bupati .

Pada 31 Oktober 1850, Raden Tumenggung Suria Natadiningrat diberi gelar Aria sekaligus dengan perubahan nama menjadi Tumenggung Aria Surya Adhiningrat.

Gelar terakhir yang diberikan Belanda berdasarkan Besluit Nomor 42 tertanggal 11 Maret 1851 adalah gelar adipati sekaligus perubahan nama (lagi) menjadi Raden Tumenggung Adipati Aria Kusumaningrat.

Namun selain nama-nama resmi, Aom Hasan memiliki nama istimewa yang diberikan oleh rakyatnya, yakni Dalem Pancaniti. Pancaniti adalah sebuah paviliun di Pendopo  yang dijadikan pusat segala kegiatan Raden Tumenggung Adipati Aria Kusumaningrat, mulai urusan politik, agama, hingga seni.

Bukti kecerdasan ilmu Dalem Pancaniti bisa dibuktikan dalam naskah berjudul “Sejarah Wangsa Goparana Sagalaherang”.

Naskah ini ditulis tahun 1857 dan diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda pada jurnal Bijdragen Tool-Land-en Volkenkunde, yaitu sebuah penerbitan Belanda yang mengkhususkan diri pada isu-isu humaniora.

Naskah ini menjadi sumber telaah penyebaran agama Islam di Jawa Barta sekaligus sumber utama Babad Cikundul. Naskah berikutnya sebanyak 39 halaman juga dikirimkan ke Belanda, berisi perubahan bupati dan silsilah Wiratanudatar.

Selain itu, Dalem Pancaniti membantu penulisan kamus Sunda-Belanda “Soendasch-Nederduitsch Woordenboek” yang dicetak tahun 1879.

Namun, Dalem Pancaniti paling dikenal sebagai dalem yang nyeni dan merupakan pelopor seni mamaos Cianjuran.

Konon salah satu bukti kecintaannya pada seni tembang adalah dengan selalu mengirimkan surat permintaan kunjungan kepada istrinya (yang tetap tinggal di padaleman), dalam pupuh Kinanti:

Serat sayoga kahonjuk
hing pangkon Dalem Dipati
sesekar eros ermawar
acina gambir malati
mustikaning panggulingan
inten komala retnadi

Engkang dek aya piunjuk
manawi bahan katampi
maksad engkang dek nepangan
ka puputon sanubari
mugi enggal diwalonan
dianti di Pancaniti.

Pada masa pemerintahannya, Dalem Pancaniti mengumpulkan seniman-seniman terbaik di Cianjur untuk diangkat menjadi seniman kebupatian. Seniman kabupaten yang terkenal di jaman Dalem Pancaniti tersebut adalah:

1. Raden Natawireja atau lebih dikenal dengan sebutan Haji Palil, ahli sastra dan seni suara.
2. Bapa Aen, juru pantun kabupaten.
3. Ma’ing Buleng yang merupakan juru sinden (waranggana).

Seni mamaos Cianjuran hasil pemikiran Dalem Pancaniti merupakan perpaduan yang harmonis antara alunan suara juru kawih mamaos dengan bunyi instrumen pengiring, yakni suling berlubang enam dan kecapi indung.

Tak hanya mengorganisir seniman dan menggubah mamaos, Dalem juga mengelompokkan jenis-jenis mamaos menjadi papantunan, dedegungan, jejemplangan serta rarancagan.

Sebagai seorang pakar mamaos, Dalem Pancaniti juga memiliki kecapi sendiri yang biasa dimainkannya. Kecapi tersebut bernama Nyi Pohaci Guling Putih. Kecapi pusaka itu berwarna putih seperti lesung dan memiliki 15 kawat.

Namun meski menyukai kesenian, Dalem pancaniti juga seorang penguasa yang memahami agama dan menyukai olahraga. Tak heran jika di masa lalu, di kalangan masyarakat Cianjur terkenal ungkapan, “Bukan orang Cianjur jika tak bisa ngaos (mengaji), mamaos (Cianjuran), dan maenpo (pencak silat).”

Pada tanggal 17 Juli 1864, Raden Tumenggung Adipati Aria Kusumaningrat tutup usia meninggalkan banyak karya dan jasa-jasa dalam berbagai bidang.

Kreasi dan penyebaran seni mamaos Cianjuran kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Raden Adipati Aria Prawiradireja II, sehingga gaung mamaos Cianjuran dari Pancaniti tetap terdengar hingga sekarang.

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.