Mengenal Cianjur dari Berbagai Sudut

Kaulinan Barudak Sunda Yang Hampir Punah

2

Kaulinan yang artinya permainan, berasal dari kata ulin (main), sedangkan barudak memiliki arti anak-anak.

Secara tradisi, permainan ini sudah ada sejak zaman dahulu kala.

Terdapat beberapa jenis Kaulinan Barudak Sunda yang miliki keunikan tersendiri dan  menjadikannya berbeda dengan jenis-jenis permainan tradisional di daerah lain.

Keunikan dari Kaulinan Barudak Sunda adalah sebagai berikut :

  • Permainan Sunda memiliki nilai yang kolektif, karena pelaksanaannya selalu melibatkan banyak orang.
  • Selain untuk hiburan, permainan Sunda berhubungan dengan aspek sosial, pendidikan, dan kreativitas motorik.
  • Permainnya cenderung memanfaatkan tempat yang luas, sehingga memiliki nilai ekonomis tinggi.

Hal paling menarik dari kaulinan Barudak Sunda adalah penggunaan nyanyian berbahasa Sunda atau yang disebut kakawihan pada beberapa jenis permainan tertentu.

Munculnya teknologi digital berakibat banyaknya game online, menyebabkan beberapa permainan tradisional anak Sunda di Jawa Barat semakin jarang dimainkan.

Meski ada juga yang masih eksis, jumlahnya pun tak seberapa.

Jenis – Jenis  Kaulinan Barudak Sundao

Contoh permainan tradisional anak-anak di Sunda atau dikenal dengan kaulinan barudak Sunda.

1. Boi-boian

Permainan Boi-boian adalah bagian dari Kaulinan Barudak yang dimainkan secara berkelompok.

Permainan ini tidak hanya dapat ditemukan di wilayah Jawa Barat, tetapi juga beberapa wilayah lain di Indonesia.

Menurut Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (2019), permainan serupa juga ditemukan dengan nama yang sama.

Selain itu, permainan ini juga dikenal sebagai Gaprek Kampung di wilayah Pati, Jawa Tengah.

2. Cingciripit

Anak-anak berkumpul dan membentuk lingkaran, kemudian salah satu diantara mereka membuka telapak tangan dan telunjuk anak-anak lainnya meletakan jari diatasnya sambil menyanyikan kawih.

Ketika kawih berakhir para calon pemain siap-siap mengangkat jarinya, karena jika tertangkap oleh si pemimpin permainan tersebut, dialah yang jadi atau dijadikan sebagai (ucing).

3. Anjang-Anjangan

Permainan ini banyak dimainkan anak-anak perempuan. bermainnya, satu orang anak berperan sebagai penjual .

Dirinya berpura-pura memasak dengan menggunakan daun-daunan, sedangkan teman yang lain berperan sebagai pembeli.

Permainan ini juga bisa ditambahkan dengan peran lainnya seperti menjadi seorang guru, murid, atau sesuai keinginan para pemainnya.

4. Congklak

Permainan ini banyak dimainkan oleh anak perempuan dan biasanya berjumlah dua orang.

Congklak menggunakan papan kayu yang sudah dilubangi sebagai medianya.

Tiap lubang pada papan kayu tersebut diisi dengan biji sawo.

Permainan akan selesai ketika semua biji sawo tersebut berhasil diambil oleh lawan main.

5. Gatrik

Gatrik merupakan permainan yang lebih banyak dimainkan oleh anak laki-laki.

Permainan ini menggunakan dua buah bambu berbeda ukuran, yaitu satu pendek dan satu panjang.

Dengan beberapa gerakan, bambu pendek dipukul dan dilontarkan dengan bambu panjang.

Jika bambu pendek yang dilontarkan berhasil ditangkap oleh tim lawan atau tim penjaga, maka tim pelempar akan kalah.

Permainan ini umumnya dilakukan lebih dari 3 anak.

6. Egrang atau Jangkungan

Egrang menjadi permainan tradisional yang menyenangkan untuk dimainkan.

Anak-anak akan menggunakan dua tongkat bambu yang memiliki pijakan sebagai tumpuan kaki.

Permainan egrang membutuhkan keseimbangan serta konsentrasi, agar bisa berjalan ke depan, ke belakang, maupun ke samping kiri dan kanan.

7. Ucing-Ucingan

Permainan ini bisa dilakukan anak laki-laki maupun perempuan.

Seorang anak dipilih melalui pemilihan tertentu, seperti suten, hompimpah, atau kacang-kacangan untuk menjadi ucing.

Tugas seorang ucing itu ialah mengejar temannya yang lain dan harus bisa menyentuh satu per satu.

Permainan selesai jika si ucing berhasil menyentuh semua temannya.

8. Hompimpah

Hompimpah adalah salah satu nyanyian yang ada dalam permainan tradisional Sunda.

Permainan banyak diadaptasi di berbagai wilayah Indonesia yang secara khusus ada pada masyarakat Sunda.

Jenis nyanyian ini ada juga di budaya masyarakat Betawi dengan lirik hompimpa alaium gambreng, Mpok Ijah pake baju rombeng.

Pada budaya sunda, hampir semua permainan diawali dengan hompimpah. Lagu hompimpah dinyanyikan bersama-sama oleh anak-anak yang hendak bermain.

Kemudian mereka akan melakukan gerakan dengan menggoyang-goyangkan tangan, ketika sampai pada bagian gambreng, setiap anak akan menyimpan tangan mereka.

Ada yang memperlihatkan telapak tangannya dan ada pula yang memperlihatkan punggung tangannya.

Tujuannya adalah untuk mencari anak yang berbeda, apabila masih belum didapatkan, mereka akan terus melakukan gambreng.

Permainan ini sering digunakan untuk mencari kelompok ataupun untuk mencari siapa yang akan menjaga (jadi) atau emeng ‘kucing' ucing.

Begitu seterusnya, permainan ini berlangsung sampai menghasilkan kelompok yang di-inginkan untuk selanjutnya digunakan dalam permainan yang lain.

Dibawah ini adalah nyanyian yang dilantunkan pada saat permainan hompimpah berlangsung.

9. Sapintrong

Permainan ini dimainkan anak-anak perempuan menggunakan alat bantu dari karet gelang yang dirangkai panjang menyerupai tali.

Dua orang memainkan tali karet dengan diputar-putar, sedangkan satu orang lainnya berloncat menghindari tali karet tersebut.

Sapintrong biasanya dimainkan secara bergilir sampai pada hitungan putaran tertentu.

2 Comments
  1. […] kamu anak kelahiran 90an pastinya sudah mengerti dan pernah memainkan permainan lato-lato ini karena memang sudah sangat populer pada masanya. Namun bagi generasi yang lahir tahun […]

  2. […] Baca juga : Kaulinan Barudak Sunda Yang Hampir Punah […]

Leave A Reply

Your email address will not be published.